Paradoks Film Horor, Emosi Senang vs Irrasionalitas

Paradoks Film Horor, Emosi Senang vs Irrasionalitas

Kesehatan
[caption id="attachment_1984" align="aligncenter" width="675"] Adegan horor yang sangat mencekam bisa terekam ke dalam bawah sadar anak-anak kurang dari usia tujuh tahun.[/caption] RAB.com (JAKARTA): Jika bukan penggemar, anda mungkin bingung mengapa ada orang yang mau duduk manis menonton film horor yang membuat mereka menjerit dan berteriak sekeras kerasnya. Kata peneliti perilaku hal itu karena fenomena yang disebut paradoks horor, yaitu kesenangan menonton horor padahal secara teori tidak masuk akal. "Tidak diragukan lagi, ada sesuatu yang sangat hebat yang membuat orang menikmati saat menonton horor. Padahal menurut teori sangat tidak masuk akal. Namun kebanyakan orang suka mengalami emosi yang menyenangkan," kata Joanne Cantor, PhD, direktur Pusat Penelitian Komunikasi University of Wisconsin, Madison, seperti dilansir dari laman WebMD. Para penggemar film horor mungkin mengatakan bahwa film horor adalah hiburan yang tidak berbahaya. Tapi jika…
Read More
Menonton TV Lebih dari 3 Jam Sehari Tingkatkan Risiko Diabetes Anak

Menonton TV Lebih dari 3 Jam Sehari Tingkatkan Risiko Diabetes Anak

Kesehatan
[caption id="attachment_774" align="aligncenter" width="761"] Kurang bergerak menaikkan risiko terkena diabetes pada anak.[/caption] RAB.com (JAKARTA): Menghabiskan waktu lebih dari 3 jam untuk menonton televisi, komputer atau sekadar bermain  video game, ternyata bisa memperbesar risiko anak terkena diabetes tipe 2. Risiko yang sama juga mengintai orang dewasa yang melakukan hal serupa. "Terlalu banyak menonton berbahaya bagi kesehatan," ujar peneliti dari Children's Hospital of Eastern Ontario Research Institute, Mark Tremblay, seperti dilansir The Verge pekan lalu. Hal ini terungkap dari penelitian terbaru dari Inggris. Bahkan, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Archieves of Disease in Childhood. Kesimpulan ini peneliti dapatkan setelah menganalisis data hampir 4.500 anak-anak di Inggris berusia 9-10 tahun pada 2004-2007. Mereka menemukan kebanyakan anak-anak menghabiskan lebih dari 3 jam terpaku pada layar TV dan perangkat elektronik lainnya. Anak-anak yang terlalu banyak…
Read More
Hukum Anak Pelaku Bullying Jangan dengan Mem-bully

Hukum Anak Pelaku Bullying Jangan dengan Mem-bully

Pendidikan
[caption id="attachment_596" align="aligncenter" width="733"] Berikan hukuman yang merupakan konsekuensi logis dan pastikan anak tak meniru dari anda.[/caption] RAB.com (JAKARTA): Ada orang tua yang menganggap anak mesti dihukum setimpal sesuai dengan perbuatan saat mem-bully temannya,  ia harus merasakan di-bully. Tapi saat tahu pentingnya perilaku sebagai kunci, seorang psikolog menyarankan untuk menghindari memberi hukuman yang akan  mengancam atau merendahkan anak, seperti berbicara keras padanya. “Kadang orangtua sangat meyakini  anaknya perlu mengalami betapa buruk rasanya saat di-bully, untuk merasakan betapa pahit obat yang harus ditelannya. Namun saat ketakutan hanya mengendalikan perilaku dalam jangka pendek, hal itu tak akan mengubahnya,” kata Joanne Cummings, psikolog dan direktur PREVNet, satu organisasi nasional Kanada yang didedikasikan untuk menghentikan bullying Orangtua, lanjut Cummings, sebaiknya memilih satu konsekuensi yang lebih logis sehubungan dengan hukuman atas perilaku agresif itu. Jika anak…
Read More
Matematika Lebih Dipahami Anak dengan Gerak

Matematika Lebih Dipahami Anak dengan Gerak

Pendidikan
[caption id="attachment_481" align="alignleft" width="224"] Penelitian menelisik apakah perbedaan strategi cara belajar matematika berpengaruh pada bagaimana anak memecahkan soal matematika. Sensor di kepala digunakan merekam aktivitas otak selama mengerjakan soal matematika.Sumber: Faculty of Science University of Copenhagen[/caption] RAB.com (JAKARTA): Ternyata matematika lebih dipahami anak dengan gerak. Anak akan lebih mampu memecahkan soal matematika bila mereka melibatkan gerakan pada seluruh badannya. "Anak-anak lebih banyak belajar dan lebih mampu memecahkan soal matematika bila mereka bergerak dan memakai keseluruhan badannya sebagai alat belajar," kata kepala peneliti di Departemen Nutrisi, Gerak, dan Olahraga Universitas Copenhagen, Jacob Wienecke. Riset ini meneliti apakah cara belajar matematika yang berbeda mengubah cara anak-anak menyelesaikan soal matematika. Hasilnya menjelaskan banyak anak mengalami peningkatan dalam matematika bila melibatkan gerak pada seluruh badan. "Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang intens bisa meningkatkan…
Read More
Membaca Buku Harry Potter Membuat Anak Lebih Toleran

Membaca Buku Harry Potter Membuat Anak Lebih Toleran

Pendidikan
[caption id="attachment_283" align="aligncenter" width="590"] Membaca buku Harry Potter membuat anak lebih toleran dan berwawasan.[/caption] RAB.com (JAKARTA): Membaca buku Harry Potter Membuat anak lebih toleran. Itulah kesimpulan dari satu penelitian tentang manfaat serial buku fantasi karya JK Rowling. Anak yang membacanya bisa belajar tentang bagaimana bersikap lebih baik terutama terhadap mereka yang berbeda atau bukan kelompoknya (out-groups). "Anak dari kelompok satu sikapnya terhadap imigran tampak jauh lebih baik setelah membaca dan mendiskusikan bagian buku Harry Potter yang terkait prasangka (prejudices) . Sedangkan anak dari kelompok yang membaca bagian buku yang netral sikapnya tidak berubah," kata profesor Loris Vezzali dari University of Modena tentang hasil penelitiannya yang dipublikasikan di  Journal of Applied Social Psychology beberapa waktu lalu. Vezzali dan tim yang dipimpinnya melakukan tiga studi saling berhubungan. Awalnya 34 siswa sekolah dasar (SD) diberi angket…
Read More